CINTA seorang IBU (I)
"Rosa, bangun.. Sarapanmu udah mama siapin di meja." Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat tapi kebiasaan mama tak pernah berubah. "Mama sayang. ga usah repot-repot ma, aku sudah dewasa." pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.
Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.
Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel
yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah
membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?" Kutatap sudut-sudut
mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, "Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri"
Ah, Ya Tuhan, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari
sebelumnya.. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti
kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.
Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putrinya?
Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab "Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi
adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu
kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."
Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Tuhan kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan
ketika mama menginginkan sesuatu." Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan..
Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Ah, maafin kami mama..... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Tuhan?
--- +++ ---
"Rosa, bangun nak.. sarapannya udah mama siapin di meja.. " Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan.. "Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik
hati, ijinkan aku membahagiakan mama." Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan..
Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu.. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..
--- +++ ---
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "Aku sayang padamu." Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa
cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai..
Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu.. Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat
mereka sangat berarti dan bahagia..
--- +++ ---
"Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama. Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu.. Titip mamaku ya Tuhan.." Untuk dan oleh semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya..
Mumpung mau lebaran, jangan lupa minta maaf, sungkem sama mama, mungkin selama ini banyak kesalahan dan dosa yg tampa kita sadari telah menyakiti hati mama. Terima kasih mama.
============================================================================
CINTA seorang IBU (II)
Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup
berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal
karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan
anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang
sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi,mengadu ayam, dan
banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi
nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu
berdoa kepada Tuhan, “Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang ku
sayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku
sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat, sebelum Aku
mati”.
Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan
jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena
kejahatan yang dilakukannya.
Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa.
Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk
yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja
untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut.
Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka
tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung.
Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman
pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa
dan kerajaan tepat pada saat lonceng Gereja berdentang
menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ke
telinga si Ibu. Dia menangis ,meratapi Anak yang sangat
dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan. “Tuhan,
Ampunilah Anak Hamba.Biarlah HambaMu yang sudah tua renta ini
yang menanggung dosa dan kesalahannya. Dengan tertatih-tatih
dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan,
tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani
hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah . Tidak
berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni.Karena kelelahan
dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan ,rakyat
berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut.
Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi
sudah pasrah m enantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di
matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis
menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang
ditentukan , lonceng Gereja belum juga berdentang. Suasana
mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya
didatangi petugas yang membunyikan lonceng di Gereja. Dia Juga
mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng
tapi, suara dentangnya tidak ada. Ketika mereka sedang
terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang di pegangnya mengalir
darah, darah tersebut datangnya dari atas, berasal dari tempat
di mana Lonceng diikat.
Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat
beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu.
Tahukah Anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua
dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di
dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi,
sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng .
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan
meneteskan air mata . Sementara si Anak meraung-raung memeluk
tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang
selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu
dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di
lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk
menghindari hukuman pancung anaknya.
Demikianlah, sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya,
betapapun jahatnya si Anak. Marilah kita mengasihi orang tua
kita masing-masing, selagi kita masih mampu karena mereka
adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di Dunia ini.
Tuhan beserta kita, semua.
Amin.